LADIESTORY.ID | LIFESTYLE | ASAL USUL PENETAPAN JAM KERJA DELAPAN JAM SEHARI

Asal Usul Penetapan Jam Kerja Delapan Jam Sehari

LS Lifestyle
Durasi baca: 2 menit, 10 detik
Bagikan ke Twitter Bagikan ke Facebook Bagikan ke Email Bagikan ke Whatsapp
Bagikan ke Twitter Bagikan ke Facebook Bagikan ke Email Bagikan ke Whatsapp

Asal Usul Penetapan Jam Kerja Delapan Jam Sehari 

Kebanyakan perusahaan di Indonesia menerapkan aturan jam kerja delapan kerja sehari atau 40 jam seminggu. Umumnya, waktu bekerja dimulai pukul 09.00 dan berakhir pukul 17.00. Waktu kerja delapan jam sehari menjadi aturan umum di seluruh dunia dan telah bertahan lebih dari satu abad. 

Rupanya, waktu kerja delapan jam sehari adalah buah dari perjuangan para buruh pada abad ke-18. Ketika itu, pada era Revolusi Industri di Inggris, belum ada penetapan jam kerja yang jelas bagi para pekerja. 

Banyak pabrik yang mempekerjakan buruh 100 jam per minggu atau sekitar 10-18 jam sehari selama enam hari dalam seminggu. Bukan membuat pekerja produktif, aturan tersebut justru mengakibatkan buruknya kualitas kerja para pekerja saat itu. 

Baca juga: Beberapa Rekomendasi Merek Jam Tangan Pria Terbaik Cocok Untuk Kado Valentine

Aturan itu terus dipraktekkan dan dibawa ke negara lain, salah satunya Amerika Serikat. Hingga pada 1817,  Robert Owen, seorang pengusaha dan aktivis sosialis berkebangsaan Inggris mulai memperbaiki kondisi tersebut di pabrik miliknya. 

Ia memangkas waktu kerja para buruh di tempatnya menjadi 10 jam per hari. Belakangan, ia memulai kampanye untuk menerapkan delapan jam kerja. Ia pun mencetuskan sebuah slogan yang terkenal adalah "delapan jam kerja", "delapan jam rekreasi", dan "delapan jam istirahat". Sayangnya, butuh waktu puluhan tahun untuk mewujudkan kampanye Owen tersebut. 

Diterapkan sampai sekarang 

Merujuk pada laman CNBC.com, pada 1867, pekerja merasa kelelahan dengan waktu kerja 12-14 jam sehari bekerja selama enam hari seminggu. Mereka pun menyerukan hal itu kepada Badan Legislatif Illinois guna membatasi waktu kerja menjadi delapan jam. 

Undang-undang pertama di Amerika Serikat yang meminta delapan jam kerja sehari disahkan di Illinois. Meski demikian, banyak perusahaan yang masih memanfaatkan para buruh bekerja lebih dari delapan jam atau mengontrak karyawan untuk waktu lebih lama. 

Sebagai bentuk perlawanan, pada 1 Mei, terjadi pemogokan massal dan turun ke jalan di Chicago yang menyebar ke kota-kota lain di AS dan Eropa. Gerakan pada hari itu dikenal sebagai May Day, yang kemudian diperingati sebagai hari buruh sedunia. Sepanjang 1880-an hingga awal 1900-an, gerakan untuk mengurangi jam standar pekerja terus berkembang. 

Kemudian, setelah lebih dari 70 tahun, usai Undang-Undang Illinois, perusahaan yang mengerjakan setiap pekerja penuh waktu di Amerika Serikat lebih dari 40 jam seminggu diharuskan membayar upah lebih atau jatuhnya lembur. Ini berkat penandatanganan Fair Labor Standards Act pada 1938 oleh Presiden Franklin Roosevelt. 

Hal ini akhirnya mendorong perusahaan lain untuk mengadopsi jam kerja yang lebih pendek, yakni delapan jam sebagai standar bagi karyawan mereka hingga sekarang. Di Indonesia, aturan waktu kerja para pekerja tertuang melalui Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. 

Dalam undang-undang itu, mengatur waktu kerja, yakni delapan jam kerja sehari dan maksimal 40 jam seminggu . Jika melebihi 40 jam, dianggap waktu kerja lembur sehingga berhak mendapat tamvahan di luar gaji pokok alias upah lembur. 

Baca juga: Tanaman Hias yang Cocok Dipajang di Meja Kerja

Asal usul jam kerja Penetapan jam kerja Jam kerja di dunia

RESPONSES

Give your comment here COMMENT

Related Posts

Trending On Lifestyle