Ladiestory.id » Parenting » Tips Memilih Mainan Untuk Anak

Tips Memilih Mainan Untuk Anak

mommy tizen
Kamis, 25 Juli 2019 | 11:17:02
Bagikan ke Twitter Bagikan ke Facebook Bagikan ke Email Bagikan ke Whatsapp
Bagikan ke Twitter Bagikan ke Facebook Bagikan ke Email Bagikan ke Whatsapp

Tips Memilih Mainan Untuk Anak

Memiliki anak usia balita, kadang membuat orang tua gemas ingin membelikan bermacam-macam mainan. Beruntungnya saya pernah mengasuh adik sepupu dan melihat sendiri tumpukan mainan mereka kini di gudang. Jadilah saya yang notabene cukup impulsif dan boros ini, bisa jadi lebih selektif untuk membeli mainan. Ditambah lagi, sudah satu tahun ini saya belajar Metode Konmari (seni beberes rumah) untuk meminimalisir timbunan barang tidak terpakai. Maka saya akan berpikir empat hingga lima kali sebelum benar-benar membeli mainan anak. 

Namun meski tekad sudah bulat, namanya ibu-ibu mana tahan yhaa kan? Apalagi jika berkunjung ke Early Learning Centre (ELC), salah satu toko mainan favorit yang koleksi mainannya menggoda iman. Bahkan terkadang "beli-mainan-untuk-anak" hanyalah alasan, padahal mamaknya yang pengen cobain deretan mainan di sana. Anak-anak pun betah karena puas mencoba mainan sebelum dibeli dan ditunjang dengan keramahan staff yang bertugas. Saya sangat terbantu dengan keramahan staff yang menjelaskan dengan sabar detail mainan. Ga ada tuh tatapan sebal dari mereka meski saya berlama-lama di store. It means a lot! 

Baca juga: FIMELA FEST 2019: Orangtua dengan Mindful Parenting Hasilkan Anak Bermental Sehat

Kenapa saya suka berlama-lama di toko mainan? Maklum, masa kecil saya banyak dihabiskan dengan belajar dan baca buku, bukan karena dipaksa ortu tapi karena memang keinginan sendiri. Ada sih mainan, seperti boneka dan balok susun. Tapi tidak seberagam dan semenarik mainan anak zaman now. So, ketika melihat mainan baru, rasanya kepo bagaimana cara bermainnya? Tapi kembali lagi, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan, semoga ini bisa menjadi tips bagi para Moms dalam memilih mainan untuk anak:


MEMUAT NILAI EDUKASI
Playing isn't a luxury, it's a necessity. Adakah yang setuju? Saya setuju dong dengan pernyataan Saskhya Aulia Prima (Psikolog sekaligus Pendiri TigaGenerasi) tersebut. Bermain berdampak pada otak melalui korteks prefrontal (pusat kendali otak) menjadi lebih besar dan lebih cepat. Tahap ini akan mempersiapkan otak muda untuk kehidupan, afeksi dan bahkan pekerjaan sekolah. Meskipun saya tidak berniat menyekolahkan kakak cepat-cepat, tapi membeli mainan yang mengandung nilai edukasi tentu saja jauh lebih bermanfaat ketimbang membeli mainan yang hanya sekedar menghibur. Apalagi jika permainan tersebut bisa mendukung perkembangan anak yaitu motorik, kognitif, sensori, sosial emosial dan komunikasi. Wah all in one package banget ya.

Baca juga: Mata Anak Minus, Gisella Anastasia Stres


GAMPANG DIBAWA KEMANA-MANA
Saya sangat sering membawa si kecil bepergian untuk urusan pekerjaan maupun vakansi. Sehingga salah satu pertimbangan dalam memilih mainan adalah harus mudah dibawa bepergian. Itu artinya, saya memilih mainan dengan ukuran yang tidak terlalu besar namun juga cukup aman untuk dimainkan dan tidak ada bagian-bagian kecil yang beresiko tertelan oleh anak. Contohnya soft book merangkap teether yang selalu saya bawa kemanapun pergi. Alhamdulillah Kakak betah mainnya dan masih 'dilirik' meski kini dia sudah punya buku lain yang lebih menarik.

MUDAH DIBERSIHKAN
Salah satu trik untuk mengatasi Gerakan Tutup Mulut alias GTM adalah memberikan mainan pada anak ketika makan. Memang beberapa psikolog dan dokter anak tidak menyarankan hal ini karena dianggap mengganggu moment makan si anak. Hal ini tentu kembali pada keputusan masing-masing ya Moms. Tapi, menurut saya sih daripada doi ga makan sama sekali, ya bolehlah diberikan mainan sebagai pengalih perhatian. Nah ketika makan, tentu ada saja bagian dari mainannya yang terkena noda dan harus dibersihkan. So, penting banget untuk memilih mainan yang gampang dibersihkan dan bisa dicuci menggunakan mesin. Kebetulan Kakak sukanya boneka hewan beberukuran kecil dan diberi nama panggilan khusus. Sambil makan, biasanya saya dongengkan tentang hewan-hewan itu. Alhamdulillah drama GTM pun perlahan berlalu.

Baca juga: Zee Zee Shahab Tularkan Virus Rajin Olahraga Kepada Anak SMA

TERBUAT DARI BAHAN BERKUALITAS
Tak jarang saya melihat mainan dengan harga murah namun kualitasnya sangat buruk. Ada bagian yang masih tajam, benang mudah copot, warna sudah pudar dan bentuknya tidak jelas. Padahal jika kita mau berhemat sedikit dan rajin hunting, banyak lho mainan dengan kualitas premium yang dijual dengan harga yang tidak terlalu mahal. Mending tahan-tahan hasrat beli baju lucu, uangnya disisihkan untuk mainan anak. Bukannya ingin memanjakan atau mendidik anak hidup bermewahan, tapi menurut saya kualitas memang berbanding lurus dengan harga. 

 

SESUAI USIA ANAK
Memasuki toko disambut sederet mainan dengan penataan yang menarik tentu membuat anak-anak bahagia sedemikian rupa. Jangan salah, kadang tidak hanya anak, ibu dan ayah pun bersemangat lho masuk toko mainan, seperti ditarik dalam kumparan nostalgia masa kecil (halah). Agar tidak bablas beli ini itu, saya akan langsung tanya ke pegawai toko, mainan mana yang sesuai dengan usia anak saya. Hal ini penting untuk membantu kita dalam menyesuaikan budget dan tentunya sesuai dengan kemampuan anak. 

Baca juga: Pengalaman Alice Norin Beberapa Kali Kerja Bareng Anak

tips memilih mainan tips parenting parenting memilih mainan anak

RESPONSES

Give your comment here COMMENT

RELATED POSTS

TRENDING ON PARENTING

RECOMMENDATION FOR YOU

End of content

No more pages to load

End of content

No more pages to load