Sudah Tayang, 5 Fakta Film Horor "Orphan: First Kill"

Minggu, 21 Agustus 2022 | 00:01:00

Gendis Ayu

Penulis : Gendis Ayu

Sudah Tayang, 5 Fakta Film Horor "Orphan: First Kill"

Orphan: First Kill. (Special)

Ladiestory.id - Film horror Hollywood “Orphan: First Kill” sudah rilis di beberapa bioskop, platform digital maupun streaming di Paramount Plus sejak Jumat (19/8/2022). Film horor ini merupakan kelanjutan cerita dari sekuel pertama, "Orphan".

Tidak seperti film horor lainnya, "Orphan" juga mengusung tema penyakit kelainan mental. Penasaran dengan sekuel film "Orphan"? Yuk simak dulu fakta film "Orphan: First Kill"!

Isabelle Fuhrman Perankan Tokoh Esther

Orphan: First Kill. (Special)

Pada sekuel pertama, film horor bertajuk "Orphan" dibintangi oleh aktris Isabelle Fuhrman. Pada "Orphan: First Kill", Isabelle Fuhrman kembali didapuk membintangi film horor ini dengan karakter yang sama, yakni Esther Allbright.

Saat memerankan Esther, Isabelle masih berusia 12 tahun. Namun, kini ia memerankan Esther saat berusia 25 tahun.

Hal inilah yang menjadi tantangan bagi kru film "Orphan: First Kill". Pasalnya, mereka harus bisa membuat Isabelle terlihat awet muda, seperti seorang gadis cilik. Sehingga, kru menggunakan dua metode dalam pembuatan karakter ini.

Mereka memilih menggabungkan metode makeup khusus. Kemudian, metode tersebut akan dipadukan dengan teknik editing digital.

Tidak Gunakan CGI

Orphan: First Kill. (Special)

Meskipun wajah Isabelle menggabungkan teknik editing digital, tapi film horor ini tidak dibuat dengan bantuan CGI (Computer Graphic Images). Pasalnya, film ini menggandeng sutradara ternama yang juga menggarap "Orphan" versi pertama, yakni William Brent Bell.

Ia mampu membuat setiap adegan yang brutal secara alami tanpa bantuan CGI. Disebutkan, produksi pengambilan gambar ini menggunakan teknik forced perspective.

"Dia harus menjalankan kondisi penyakit yang membuatnya hidup sebagai anak kecil. Bagaimana orang-orang memperlakukannya seperti anak kecil, membuatnya tidak bahagia dan berujung depresi. Lalu, dia menemukan coping mechanism tepat untuk mengatasi itu, yaitu dengan menjadi sosiopat gila yang tak segan menghabisi 'keluarganya," ujar Bell dalam wawancara eksklusif dengan Movie Web.

Lebih Brutal

Orphan: First Kill. (Special)

Bagi yang sudah menonton "Orphan" versi pertama, pasti mengetahui bagaimana film horor ini sangat brutal. Sementara, disebutkan "Orphan: First Kill" memiliki alur yang lebih brutal dan menjual unsur psikologis.

Pasalnya, para kru berhasil mentransferkan rasa sedih dan depresi yang dialami Esther. Nantinya, penonton akan digiring untuk memiliki opini bahwa seseorang seperti Esther tidak ada yang salah alias sah-sah saja.

Kemudian, film horor ini pun memiliki pembelajaran hidup dari berbagai karakter yang ada di "Orphan: First Kill". Pasalnya, dalam film horor Hollywood tidak mungkin penjahat membunuh tanpa suatu alasan.

Diangkat dari Kisah Nyata Tahun 1994

Orphan: First Kill. (Special)

Faktanya, film “Orphan: First Kill” ini diangkat dari kisah nyata, yang diadopsi dari keluarga Barnett. Keluarga yang tinggal di Amerika ini mengadopsi seorang anak perempuan usia 6 tahun dari Ukraina.

Rupanya, anak tersebut memiliki penyakit langka. Penyakit yang diidapnya adalah dwarfisme, yakni seorang anak yang tidak bisa tumbuh tinggi meski usianya terus bertambah.

Selain itu, anak tersebut memiliki kelainan psikologis. Sementara, perempuan tersebut sudah berumur 22 tahun, tapi bentuk fisiknya seperti usia 6 tahun.

Kemungkinan Ada Sekuel "Orphan 3"

Orphan: First Kill. (Special)

Sang sutradara, William Brent Bell, mengatakan film "Orphan" merupakan waralaba. Sehingga, jika "Orphan 2" memiliki banyak peminat, maka tidak menutup kemungkinan akan ada "Orphan 3".

Pasalnya, dari akhir kisah film horor "Orphan: First Kill", sangat memungkinkan untuk dikembangkan menjadi "Orphan 3". Bahkan, Bell sangat tertarik untuk terus mengeksplor karakter Esther dengan berbagai konflik serta intrik di dalamnya.

Jika nantinya "Orphan 3" bisa diproduksi, Bell ingin menceritakan lebih gelap untuk merampungkan akhir kisah Esther.