10 Jenis Kesalahan Logika Berpikir yang Berbahaya

Minggu, 24 April 2022 | 00:01:00

Prisca Devina

Penulis : Prisca Devina

10 Jenis Kesalahan Logika Berpikir Yang Berbahaya

Ilustrasi kesalahan logika berpikir. (Special)

Ladiestory.id - Meskipun zaman sudah mulai modern, namun masih banyak orang yang membuat kesalahan logika dalam berpikir. Secara garis besar, kesalahan logika berpikir atau distorsi kognitif adalah sebuah kesalahan logika dalam berpikir yang mana memiliki kecenderungan berpikir yang berlebihan serta tidak rasional.

Apabila hal ini terus dibiarkan, maka kesalahan itu akan menjadi kebiasaan, lalu perlahan dapat mempengaruhi kondisi emosi dan perilaku. Menurutmu apa saja kesalahan logika dalam berpikir itu? Berikut adalah jenis-jenis distorsi kognitif yang mungkin Kamu alami.

All or Nothing Thinking

Ilustrasi kesalahan logika berpikir. (Special)

Pola pikir distorsi kognitif yang satu ini mempunyai pengertian di mana Kamu melihat segala sesuatu secara absolut. Hanya ada hitam dan putih, sedangkan tidak ada ruang abu-abu di antaranya. Pemikiran seperti ini yang membuat dirimu kesulitan keluar dari gangguan psikologis yang sedang Kamu alami.

Overgeneralization

Ilustrasi kesalahan logika berpikir. (Special)

Kesalahan berpikir selanjutnya dinamakan overgeneralization. Biasanya, pada distorsi kognitif seperti ini, akan muncul kata seperti "selalu" atau "tidak pernah". Alasannya, karena Kamu selalu menggeneralisasi apa yang terjadi setelah suatu kejadian atau rentetan kasus tertentu. Setelahnya, Kamu merasa seperti tidak melihat ruang lain lagi selain dua kata tersebut.

Mental Filtering

Ilustrasi kesalahan logika berpikir. (Special)

Pemikiran distorsi kognitif semacam ini cenderung membuatmu lebih fokus pada satu kejadian dan melupakan hal lain. Contohnya saja, Kamu merasa hanya bisa nyaman bergaul ketika mengonsumsi obat terlarang. Jika tidak, Kamu akan merasa rendah diri dan tidak disukai orang di sekitarmu.

Magnification/Catastrophizing

Ilustrasi kesalahan logika berpikir. (Special)

Kondisi ini terjadi karena adanya kecenderungan untuk membesar-besarkan suatu hal yang dianggap sebagai sumber masalah. Pola pikir semacam ini rentan membuat Kamu yang kecanduan kembali terjebak dalam pola pikir yang sama.

Jumping to Conclusions

Ilustrasi kesalahan logika berpikir. (Special)

Pola pikir ini dibagi menjadi dua yaitu mind reading yang berarti menyimpulkan reaksi seseorang sesudah menggambarkan pemikiran mereka. Dan fortune telling yang artinya memprediksi apa yang akan terjadi. Biasanya, hal ini dilakukan untuk menghindari tantangan.

Labelling

Ilustrasi perempuan overthinking. (Special)

Kemudian ada distorsi kognitif dengan cara memberikan label tentang diri sendiri atau orang lain sebagai sifatnya. Jadi Kamu hanya melihat dirimu sebagai individu dengan label tertentu secara sepihak. Biasanya, pemberian label seperti ini bisa terjadi dari penyimpulan sepihak. Contohnya, orang yang tidak tersenyum sebagai orang sombong.

"Should" Statements

Ilustrasi kesalahan logika berpikir. (Special)

Sebenarnya ini merupakan cara seseorang berbicara pada dirinya sendiri. Alasan kenapa hal ini menjadi distorsi karena Kamu memiliki kecenderungan untuk menekankan hal-hal yang seharusnya dilakukan. Akibatnya, Kamu akan cenderung meremehkan ide dan pemikiran diri sendiri, hingga rentan merasa terus-menerus gagal

Emotional Reasoning

Ilustrasi kesalahan logika berpikir. (Special)

Jenis penalaran ini mengasumsikan bahwa emosi negatif yang dialami pasti merupakan cerminan realitas yang akurat. Jika Kamu merasa mengalami perasaan bersalah, maka penalaran emosional akan mengarahkannya untuk menyimpulkan bahwa Kamu adalah orang jahat.

Disqualifying the Positive

Ilustrasi kesalahan logika berpikir. (Special)

Pemikiran seperti ini berarti mengabaikan atau tidak memberikan validasi pada hal-hal baik yang terjadi pada dirinya sendiri. Akibatnya, pemikiran ini akan berdampak pada relasi dengan orang lain di sekitar dirinya.

Personalization and Blame

Ilustrasi kesalahan logika berpikir. (Special)

Kesalahan pola pikir ini mengakibatkan seseorang menyalahkan diri sendiri atau orang lain, meskipun apa yang terjadi melibatkan banyak faktor lain dan di luar kendali, atau bisa dari pengaruh yang diterimanya sejak kecil. Contohnya saja, terlalu sering mendengar orang tua menyalahkan dirinya saat kecil yang mana itu akan membentuk dirinya sebagai sosok yang tidak percaya diri dan melarikan diri ke hal negatif.

s