Perlu Diskrining, 3 Kelompok Ini Berisiko Tinggi Terkena Kanker Paru!

Senin, 4 Desember 2023 | 00:00:00

Aldeta Prasasti

Penulis : Aldeta Prasasti

Perlu Diskrining, 3 Kelompok Ini Berisiko Tinggi Terkena Kanker Paru!

Ilustrasi kanker paru. (Pexels/Anna Shvets)

Ladiestory.id - Kanker paru menjadi kanker dengan jumlah pasien yang berakhir meninggal dunia sangat tinggi di dunia bila dibandingkan dengaan kanker lainnya.

Di Indonesia sendiri, penderita kanker paru tercatat sebanyak 34.783 pasien yang, dan sebanyak 30.483 pasien kanker paru yang berakhir meninggal dunia.

Untuk mencegahnya, perlu adanya kesadaran diri dari setiap individu untuk melakukan pemeriksaan, apa lagi jika individu tersebut masuk ke dalam kelompok yang memiliki risiko tinggi terkena kanker paru.

Menurut pakar Onkologi Toraks RSUP Persahabatan Prof. dr. Elisna Syahruddin, PhD, Sp.P (K), ada tiga kelompok masyarakat yang berisiko tinggi terkena kanker paru sehingga perlu melakukan skrining.

Ketiga kelompok yang dimaksud yakni individu usia 45 hingga 71 tahun, perokok aktif atau mantan perokok yang berhenti merokok kurang dari 15 tahun serta perokok pasif.

"Usia 45 sampai 71 kita masukkan dalam program skrining," ujar Prof. dr. Elisna dalam diskusi yang digelar Roche Indonesia dalam memperingati Bulan Peduli Kanker Paru Sedunia di Jakarta, pada Selasa (28/11/2023).

"Kedua, dia itu perokok aktif atau bekas perokok tapi belum sampai 15 tahun berhentinya, termasuk perokok pasif," lanjut Prof. dr. Elisna.

Lalu, kelompok berisiko tinggi terkena kanker paru ketiga adalah individu yang berada di dalam keluarga, yang memiliki riwayat kanker paru.

"Ternyata dari data evidence based itu, kalau di keluarganya punya riwayat kanker paru, dia itu berisiko. Kalau di keluarganya ada (yang) kanker paru, dia lebih rentan. Makanya harus menskrining dirinya," ungkap Prof. dr. Elisna.

Meski demikian, pada kelompok berisiko ketiga tidak berarti faktor keturunan menjadi penyebab seseorang terkena kanker paru.

Lebih lanjut, Prof. dr. Elisna Syahruddin, PhD, Sp.P (K) juga menjelaskan terkait perbedaan antara skrining dengan deteksi dini yang selama ini digaungkan menjadi pemeriksaan mandiri guna mengetahui adanya tanda-tanda fisik yang merujuk pada kanker.

Skrining adalahh tindakan pemeriksaan yang dilakukan pada individu dalam kondisi sehat tetapi memiliki faktor risiko. Sedangkan deteksi dini dilakukan terhadap individu yang telah menunjukkan gejala.

Kedua tindakan pemeriksaan itu sangat penting dilakukan bagi semua individu yang berada di dalam kelompook yang memiliki risiko tinggi terkena kanker paru.

Bukan hal yang remeh, dengan mau bergerak dan mengambil tindakan pemeriksaan di awal, hal itu akan meningkatkan angka harapan hidup setiap individu.

“Untuk meningkatkan angka harapan hidup ada tiga upaya, yang pertama skrining, kedua deteksi dini, yang ketiga pemberian terapi yang optimal,” tandas Prof. dr. Elisna.