Asah Empati Pada Anak, Terapkan 4 Strategi Ini!

Jumat, 29 Juli 2022 | 09:00:00

Erika Kamaria Yamin

Erika Kamaria Yamin

Psychologist & Certified Hypnotherapist

Educational Psychologist Ide Plus dan Taby Time

Asah Empati Pada Anak, Terapkan 4 Strategi Ini!

Ilustrasi ibu dan anak. (Special)

Karena cinta sejati datang dari saling memahami, maka kemampuan berempati penting untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Dirangkum dari berbagai sumber, empati adalah kemampuan untuk memahami kondisi dan perasaan orang lain, serta menggunakan pemahaman tersebut untuk memberikan respons yang sesuai.

Dengan empati, ada usaha yg dilakukan untuk memahami kondisi serta perasaan orang lain. Lalu, pemahaman tersebut digunakan untuk bertindak.

Empati merupakan elemen dasar untuk bisa menjalin hubungan yg harmonis dengan orang lain, baik orang tua, pasangan, anak, teman, maupun rekan kerja. Hasil penelitian The Grant Study yang dilakukan oleh para peneliti di Universitas Harvard selama 80 tahun, menemukan bahwa hubungan harmonis dengan orang lain merupakan kunci untuk bisa panjang umur dan hidup bahagia.

Untuk itu, kemampuan empati ini perlu diasah sejak dini. Lalu bagaimana strategi untuk mengasah empati pada anak? Berikut empat strategi yang bisa diterapkan.

Bimbing Anak untuk Pahami Emosi

Ilustrasi ibu dan anak. (Special)

Pemahaman emosi menjadi hal dasar untuk bisa berempati. Anak akan belajar bahwa wajar dan tidak apa-apa untuk merasakan beragam jenis emosi. Begitupun orang lain pada anak usia dini, memahami emosi bisa dilakukan dengan belajar mengenali ekspresi wajah, seperti saat senang, marah, maupun sedih.

Ajak Anak Diskusi

Ilustrasi ibu dan anak. (Special)

Hal ini bisa dilakukan melalui kegiatan-kegiatan menyenangkan, misalnya pretend play atau bermain pura-pura. Di sini anak berpura-pura mengambil peran sebagai orang lain. Latihan ini baik untuk anak belajar bagaimana rasanya ketika berada di posisi orang lain. 

Selain itu, kamu juga bisa bertanya pada anak ketika menonton film atau membaca cerita. Pertanyaan tersebut bisa berupa, “Apa ya yang si X rasakan ketika kehilangan mainannya?” atau “Apa yang si A rasakan setelah dapat medali?”. Kegiatan ini akan memperkaya vocabulary emosi pada anak

Setelah itu, kamu bisa bertanya, "Apa yang X bisa lakukan dalam situasi itu?" atau "Kalau adik yang jadi X, apa yang dirasakan? Apa yang akan dilakukan?", pada anak.

Libatkan Anak dalam Kegiatan Sosial

Ilustrasi anak ikut kegiatan sosial. (Special)

Untuk mengasah empati, ada baiknya orang tua mengikutsertakan anak dalam kegiatan yang berhubungan dengan orang lain. Misalnya, melatih kepedulian dengan mengajak anak membantu korban bencana, memberi bantuan untuk panti asuhan, atau mendongeng untuk anak jalanan.

Orang tua pun dapat mengikutsertakan anak dalam komunitas atau organisasi. Dengan begitu, anak memiliki kesempatan untuk memahami dan mengenali jika orang lain punya kondisi dan kebutuhan yg berbeda-beda. Misalnya, ada teman yang orang tuanya sudah berpisah atau punya orang tua yang cenderung galak.

Melibatkan anak dalam kegiatan sosial membuat anak belajar mengenali, memahami dan berespons terhadap perbedaan. Interaksi dengan orang lain merupakan kesempatan belajar yang sangat baik untuk berempati.

Ingat untuk Pahami Kondisi dan Perasaan Anak

Ilustrasi ibu dan anak. (Special)

Orang tua memiliki peran untuk mencoba memahami anak sekaligus mencontohkan bagaimana berempati. Hal ini bertujuan agar anak paham dengan konsep berempati.

Sebagai contoh, jika orang tua yang selalu memaksakan kehendaknya, maka anak akan belajar bahwa memahami orang lain itu tidak penting. Ke depannya, anak beresiko mengalami kesulitan untuk menjalin relasi dengan teman-temannya. 

Untuk itu, orang tua harus bisa memberi contoh berempati dan memahami perasaan anak.

Selamat mencoba!

s