Tips Inovasi Bagi Industri Fashion untuk Lebih Sustainable di Tahun 2024

Jumat, 12 Januari 2024 | 15:46:00

Aldeta Prasasti

Penulis : Aldeta Prasasti

Tips Inovasi Bagi Industri Fashion Untuk Lebih Sustainable Di Tahun 2024

Ilustrasi Industri Fashion. (Pexels.com/Anna Tarazeich)

Ladiestory.id - Saat ini dunia tengah mengalami krisis iklim yang sudah mulai terlihat dan disebut akan membahayakan manusia. Salah satu yang menjadi penyebab krisis iklim datang dari limbah dalam industri fashion.

Dilansir dari Vougue Online, menurut laporan terbaru dari Stand.Earth menemukan bahwa dari 14 jenama fashion besar, hanya empat merek saja yang berupaya mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar jumlah yang dibutuhkan. Hal ini untuk menjaga pemanasan global di bawah 1,5 derajat celcius.

Ada banyak upaya yang bisa dilakukan oleh para desainer serta jenama fashion untuk terus berkarya sekaligus memelihara kelestarian bumi dengan inovasi-inovasi kreatif dan menarik. Upaya tersebut menjadi sebuah solusi, seperti menggunakan pewarna ramah lingkungan, hingga teknologi daur ulang yang canggih.

Maksimalkan Produksi

Ilustrasi Industri Fashion. (Pexels.com/Yyuuen Tao Chun)

Produksi berlebih adalah masalah besar dalam industri fashion, dengan perkiraan 10-45% dari seluruh pakaian yang diproduksi tidak pernah terjual. Hal ini karena model tersebut didasarkan pada prediksi pakaian seperti apa yang akan dibeli konsumen.

Maka, untuk merubah pola tersebut dan dapat menjadi langkah mengurangi limbah fashion, produksi pakaian sesuai permintaan konsumen adalah solusinya. Tidak hanya berpartisipasi dalam pemanasan global, langkah tersebut juga akan membuat merek pakaian tersebut menjadi lebih eksklusif.

Gunakan Pewarna Ramah Lingkungan

Ilustrasi Industri Fashion. (Pexels.com/Ksenia Chernaya)

Kebanyakan industri fashion menggunakan pewarna sintetis yang diketahui lebih bertahan lama, namun hal itu justru menjadi salah satu faktor mengapa industri fashion menjadi penyebab dari krisis iklim.

Proses pewarnaan pakaian dengan pewarna sintetis dapat mencemari sungai-sungai di lingkungan sekitar. Untuk menguranginya, cobalah beralih menggunakan pewarna yang ramah lingkungan, seperti Colorfix (pewarna bakteri yang digunakan Pangaia), Living Ink (pewarna berbahan dasar alga, digunakan dalam kolaborasi Nike x Billie Eilish), dan Air-Ink (yang mengubah polusi menjadi pewarna).

Manfaatkan Alam

Ilustrasi Industri Fashion. (Pexels.com/Vika Glitter)

Meskipun kulit berbahan dasar jamur telah lama dibicarakan, rumput laut masih belum banyak diketahui sampai sekarang.

Seperti inovasi yang dilakukan oleh Stella McCartney, yang meluncurkan benang baru berbahan dasar rumput laut, Kelsun, di peragaan busana musim semi 2024.

Sementara merek seperti Another Tomorrow telah bermitra dengan SeaCell, yang dibuat dengan memanen rumput laut secara bertanggung jawab dari Fjord Islandia.

Manfaatkan Teknologi

Ilustrasi Industri Fashion. (Pexels.com/MART PRODUCTION)

Daur ulang masih menjadi tantangan besar dalam industri fashion, salah satu kendalanya adalah sulitnya memisahkan bahan campuran untuk mendaur ulang, di sinilah peran Circ.

Circ memecah bahan polikatun menjadi poliester dan serat Lyocell yang dapat digunakan kembali untuk pakaian baru. Pada Oktober, Mara Hoffman menjadi desainer pertama yang mengungkap gaun menggunakan teknologi Circ.

Meskipun inovasi baru sangatlah penting, namun  tetap tidak boleh melupakan para pekerja garmen yang membuat pakaian. Saat ini, secara mengejutkan, 93% merek tidak memberikan upah yang layak kepada pekerja garmen.

Sementara itu, kelompok kampanye Fashion Revolution memperingatkan bahwa peralihan ke model berdasarkan permintaan dapat menempatkan pekerja di bawah tekanan yang sangat besar, karena lonjakan yang tiba-tiba dan tidak dapat diprediksi.

Oleh karena itu diperlukan transisi yang adil memastikan pekerja mendapatkan pekerjaan yang aman dan upah yang adil seiring dengan industri yang terus memanfaatkan teknologi baru dan bergerak menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.