Unilever Indonesia Kedepankan Kesetaraan dan Berbagi Tips Hadapi Workplace Bullying

Selasa, 28 Juni 2022 | 20:30:00

Arfiah Ramadhanti

Penulis : Arfiah Ramadhanti

Unilever Indonesia Kedepankan Kesetaraan Dan Berbagi Tips Hadapi Workplace Bullying

Ilustrasi bully. (Special)

Ladiestory.id - PT Unilever Indonesia, Tbk. bekerja sama dengan Campus Marketeers Club menyelenggarakan webinar bertajuk “Creating Positive Vibes at Work: Tolerance is Key” melibatkan lebih dari 300 mahasiswa dari berbagai wilayah Indonesia.

Webinar ini membekali para mahasiswa dengan kesadaran mengenai isu yang harus mereka prioritaskan saat mulai memasuki lapangan kerja nanti, yaitu pentingnya bekerja di dalam lingkungan yang memiliki vibes positif dengan mengedepankan nilai-nilai kesetaraan, keberagaman dan inklusivitas.

Kristy Nelwan, Head of Communication Unilever Indonesia menyampaikan, jika hal ini sejalan dengan strategi ‘The Unilever Compass’, Unilever berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil dan inklusif.

Komitmen ini diwujudkan Unilever melalui berbagai upaya dan langkah nyata untuk turut berpartisipasi menegakkan kesetaraan, keberagaman dan inklusivitas di lingkungan kerja.

Namun, Tara de Thouars, BA, M. Psi. selaku Psikolog Klinis Dewasa mengungkap jika nyatanya, salah satu bentuk intoleransi yang masih kerap terjadi di lingkungan kerja adalah workplace bullying, yaitu serangkaian perilaku yang dilakukan secara sengaja dan berulang untuk mengintimidasi, menjatuhkan atau menyakiti orang lain di tempat kerja.

Contohnya kekerasan fisik, verbal, pengucilan/pemboikotan, sabotase pekerjaan, dan lainnya. Workplace bullying bisa dilakukan secara langsung, maupun secara online (via telepon, atau cyberbullying).

Webinar UnileverXCampus Marketeers Club “Creating Positive Vibes at Work: Tolerance is Key”, (Spesial)

Tindakan ini melibatkan tiga pihak, pertama adalah pelaku, yang kebanyakan menyerang titik lemah target agar mereka terlihat berkuasa sehingga menutupi ketidakmampuan atau ketidakpuasan dalam dirinya. Kemudian target, yang secara sengaja dan berulang dipermalukan sehingga berpotensi mengalami berbagai efek psikologis yang mengganggu keseharian dan produktivitas.

Ketiga adalah saksi, yang tanpa pemahaman yang cukup mengenai cara menghadapi situasi workplace bullying, seringkali hanya berdiam diri. Padahal, saksi memiliki peranan yang sangat penting untuk mengintervensi perilaku tidak menyenangkan tersebut.

Berikut tips yang diberikan Tara, untuk menghadapi workplace bullying yang bisa diterapkan untuk menghindari bahkan mengatasinya.

  1. Tetap tenang. Pelaku bullying seringkali ingin memancing reaksi dan merasa senang bila target menunjukkan rasa kesal atau terluka karena tindakan mereka. Latih diri untuk memiliki batasan emosional yang sehat sehingga kita tidak bereaksi dan merasa buruk terhadap diri sendiri. 
  2. Atasi masalah secara langsung. Coba bicara dan tegaskan pendapat atau perasaan kamu saat berkomunikasi dengan pelaku. 
  3. Laporkan pada atasan atau HRD. Lakukan dengan komunikasi yang tepat sehingga mereka dapat membantu mencari jalan keluar terbaik. 
  4. Dokumentasikan. Catat jam, lokasi, hingga siapa saja yang berada di dekat kamu saat peristiwa itu terjadi sehingga dapat membantu saat kita ingin melaporkan perlakuan tersebut. 
  5. Jangan ragu untuk berbicara dengan orang lain. Baik itu dengan rekan kerja, sahabat, atau terapis jika perlu, hal ini dapat membantu kita mengatasi efek bullying yang dirasakan.
  6. Jaga rasa percaya diri dan pikiran positif. Bullying tidak merepresentasikan isu tentang targetnya, tapi merepresentasikan isu tentang pelakunya. Seringkali terget jadi merasa diri kurang, buruk, jelek. Padahal, its not about the victim, its about the perpetrator.

Selain itu, seorang karyawan juga harus percaya bahwa mereka terlindung di bawah perusahaan yang memiliki kebijakan kuat terhadap segala bentuk diskriminasi dan bullying. Untuk itu, sangat penting bagi seorang calon karyawan untuk memastikan bahwa mereka memilih perusahaan yang berpihak pada kesetaraan, keberagaman dan inklusivitas. 

s